<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>sannflowers</title>
    <link>https://sannflowers.writeas.com/</link>
    <description></description>
    <pubDate>Fri, 03 Apr 2026 20:23:52 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>355; D-1</title>
      <link>https://sannflowers.writeas.com/55-d-1?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[- -&#xA;Gema dialog dari atas panggung menyiratkan ribuan pesan pada barisan penonton, panggung teater bukan hanya tempat sandiwara, layaknya berkomunikasi, ada kisah yang disampaikan oleh sebuah kisah dari atas panggung.&#xA;&#xA;Setelah membaca pesan terakhir, &#39;sepuluh menit lagi kita sampai&#39;, Anjani menutup ponsel dan kembali menyaksikan riungan orang di atas panggung dari kursi penonton, dia memandangi panggung, menghela napas seakan oksigen di dalam sana menipis, mengingat kalau besok malam, panggung ini akan menjadi sarana untuk melarikan diri dari kekejaman isi kepala yang selama ini menyandera kebebasan.&#xA;&#xA;Dia melihat Dylan sudah melambaikan tangan di tengah kerumunan anggota yang sudah lebih dulu hadir di sana, memberi sinyal jika ini sudah waktunya dia bersembunyi. Sambil berjalan meninggalkan kursi penonton, Anjani banyak-banyak mengucap doa semoga hari pementasan besok berjalan seperti apa yang telah ia saksikan pada gladi resik hari ini. The magic tumbled down from its stage and it was so beautiful, bangga, kagum, dan khawatir dalam satu waktu, dia tidak menyangka kalau rencananya benar-benar terjadi.&#xA;&#xA;Beberapa menit kemudian Anjani mendengar suara orang-orang di dalam aula mendadak semakin ramai, tampaknya mereka yang sudah ada di sana tengah menyambut beberapa orang yang baru saja tiba. Dia tahu ada Aleon di salah satunya, rasanya ingin sekali berlari mengejutkannya setelah seharian ini belum sama sekali melihat lelaki itu, namun Anjani harus tetap bersembunyi di belakang panggung, hanya ditemani dua kotak berisi origami biru. &#xA;&#xA;Untungnya dinding-dinding aula menyampaikan suara dari depan sana sampai ke telinganya dengan sangat baik, sehingga dia ikut merasa terajak ke dalam obrolan. Dia memainkan kertas-kertas origami di dalam kotak, meraup lalu melepaskannya lagi sembari mendengarkan satu per satu perwakilan anggota saling berganti menyampaikan pesan personal, mengucap banyak-banyak apresiasi bagi seluruh tim, juga kata terima kasih yang tiada habisnya terlempar untuk satu sama lain. Sebelum sampai pada puncak pementasan besok, berbagai hal patut dirayakan malam ini karena semuanya sudah bekerja keras di sepanjang 5 bulan terakhir.&#xA;&#xA;Di depan sana, sekarang seluruh pasang mata sedang mengarah pada Aleon seperti lampu panggung yang menyoroti pemeran utama. &#xA;&#xA;Ini gilirannya berbicara, dengan percaya diri menyampaikan apa-apa yang seharusnya ia ceritakan dari awal bersama senyuman tulusnya.&#xA;&#xA;&#34;I&#39;ve been waiting for this day from the first time the plans were announced. Dulu ibu saya pernah buat pentas musik sederhana untuk anak-anak panti waktu gedung kesenian ini masih dikelola kota. Beliau bukan pemain cello yang hebat bagi semua orang, tapi bagi anak-anak panti yang menunggu permainan musiknya setiap minggu, ibu seorang pemusik yang luar biasa. This project means a lot to me more thank you think, karena lewat projek ini saya bisa ajak lagi ibu main ke tempat yang menyimpan satu memori berharganya, walau semua memorinya tentang gedung ini sekarang sudah gak ada lagi buat beliau. Ibu saya mengidap Alzheimer dini sejak 2014, dan terhitung dari 3 tahun lalu beliau sudah semakin kehilangan dirinya. Life goes very hard when your mother doesn&#39;t remember that you are her son. But it is what it is. Gedung seni ini memang kembali asing buat ibu, tapi pementasan besok bisa jadi memori pertama lagi untuk beliau, I think it&#39;s totally fine, she can still get all the joy, and this building still holds the happiness she once gave. Rumah cemara dan sanggar maheswara berarti banyak buat saya, terima kasih, terima kasih, dan terima kasih.&#34;&#xA;&#xA;Kini kisah Aleon pun berarti besar untuk banyak orang, untuk mereka yang sama-sama mengalami kehilangan, untuk mereka yang marah pada alur pilihan Tuhan, untuk mereka yang sedang dalam prosesnya belajar bagaimana cara mengikhlaskan. Ucapannya diakhiri oleh tepuk tangan yang diikuti lemparan kata apresiasi bertubi-tubi. &#xA;&#xA;Bagaikan satu judul lagu semua aku dirayakan, hari ini ia dirayakan.&#xA;&#xA;Dari belakang panggung, Anjani mendengar kalimat Aleon dengan kagum. Dia langsung melirik ke arah tumpukan kertas origami biru di dalam kotak dengan mata berkaca-kaca, Anjani masih ingat harapan pertama yang ia terbangkan melalui pesawat kertas pemberian Aleon. Lalu besok, kertas-kertas ini akan diterbangkan juga oleh banyak orang, they will all fly tomorrow, for everyone&#39;s hope and for everyone&#39;s freedom.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<p>Gema dialog dari atas panggung menyiratkan ribuan pesan pada barisan penonton, panggung teater bukan hanya tempat sandiwara, layaknya berkomunikasi, ada kisah yang disampaikan oleh sebuah kisah dari atas panggung.</p>

<p>Setelah membaca pesan terakhir, <em>&#39;sepuluh menit lagi kita sampai&#39;</em>, Anjani menutup ponsel dan kembali menyaksikan riungan orang di atas panggung dari kursi penonton, dia memandangi panggung, menghela napas seakan oksigen di dalam sana menipis, mengingat kalau besok malam, panggung ini akan menjadi sarana untuk melarikan diri dari kekejaman isi kepala yang selama ini menyandera kebebasan.</p>

<p>Dia melihat Dylan sudah melambaikan tangan di tengah kerumunan anggota yang sudah lebih dulu hadir di sana, memberi sinyal jika ini sudah waktunya dia bersembunyi. Sambil berjalan meninggalkan kursi penonton, Anjani banyak-banyak mengucap doa semoga hari pementasan besok berjalan seperti apa yang telah ia saksikan pada gladi resik hari ini. <em>The magic tumbled down from its stage and it was so beautiful</em>, bangga, kagum, dan khawatir dalam satu waktu, dia tidak menyangka kalau rencananya benar-benar terjadi.</p>

<p>Beberapa menit kemudian Anjani mendengar suara orang-orang di dalam aula mendadak semakin ramai, tampaknya mereka yang sudah ada di sana tengah menyambut beberapa orang yang baru saja tiba. Dia tahu ada Aleon di salah satunya, rasanya ingin sekali berlari mengejutkannya setelah seharian ini belum sama sekali melihat lelaki itu, namun Anjani harus tetap bersembunyi di belakang panggung, hanya ditemani dua kotak berisi origami biru.</p>

<p>Untungnya dinding-dinding aula menyampaikan suara dari depan sana sampai ke telinganya dengan sangat baik, sehingga dia ikut merasa terajak ke dalam obrolan. Dia memainkan kertas-kertas origami di dalam kotak, meraup lalu melepaskannya lagi sembari mendengarkan satu per satu perwakilan anggota saling berganti menyampaikan pesan personal, mengucap banyak-banyak apresiasi bagi seluruh tim, juga kata terima kasih yang tiada habisnya terlempar untuk satu sama lain. Sebelum sampai pada puncak pementasan besok, berbagai hal patut dirayakan malam ini karena semuanya sudah bekerja keras di sepanjang 5 bulan terakhir.</p>

<p>Di depan sana, sekarang seluruh pasang mata sedang mengarah pada Aleon seperti lampu panggung yang menyoroti pemeran utama. </p>

<p>Ini gilirannya berbicara, dengan percaya diri menyampaikan apa-apa yang seharusnya ia ceritakan dari awal bersama senyuman tulusnya.</p>

<p>“<em>I&#39;ve been waiting for this day from the first time the plans were announced</em>. Dulu ibu saya pernah buat pentas musik sederhana untuk anak-anak panti waktu gedung kesenian ini masih dikelola kota. Beliau bukan pemain cello yang hebat bagi semua orang, tapi bagi anak-anak panti yang menunggu permainan musiknya setiap minggu, ibu seorang pemusik yang luar biasa. <em>This project means a lot to me more thank you think</em>, karena lewat projek ini saya bisa ajak lagi ibu main ke tempat yang menyimpan satu memori berharganya, walau semua memorinya tentang gedung ini sekarang sudah gak ada lagi buat beliau. Ibu saya mengidap Alzheimer dini sejak 2014, dan terhitung dari 3 tahun lalu beliau sudah semakin kehilangan dirinya. <em>Life goes very hard when your mother doesn&#39;t remember that you are her son. But it is what it is</em>. Gedung seni ini memang kembali asing buat ibu, tapi pementasan besok bisa jadi memori pertama lagi untuk beliau, <em>I think it&#39;s totally fine, she can still get all the joy, and this building still holds the happiness she once gave</em>. Rumah cemara dan sanggar maheswara berarti banyak buat saya, terima kasih, terima kasih, dan terima kasih.”</p>

<p>Kini kisah Aleon pun berarti besar untuk banyak orang, untuk mereka yang sama-sama mengalami kehilangan, untuk mereka yang marah pada alur pilihan Tuhan, untuk mereka yang sedang dalam prosesnya belajar bagaimana cara mengikhlaskan. Ucapannya diakhiri oleh tepuk tangan yang diikuti lemparan kata apresiasi bertubi-tubi. </p>

<p>Bagaikan satu judul lagu <em>semua aku dirayakan</em>, hari ini ia dirayakan.</p>

<p>Dari belakang panggung, Anjani mendengar kalimat Aleon dengan kagum. Dia langsung melirik ke arah tumpukan kertas origami biru di dalam kotak dengan mata berkaca-kaca, Anjani masih ingat harapan pertama yang ia terbangkan melalui pesawat kertas pemberian Aleon. Lalu besok, kertas-kertas ini akan diterbangkan juga oleh banyak orang, <em>they will all fly tomorrow, for everyone&#39;s hope and for everyone&#39;s freedom.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://sannflowers.writeas.com/55-d-1</guid>
      <pubDate>Sat, 16 Sep 2023 14:28:58 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>335; Buku harian (dan apa-apa) yang hilang Vol 3, Malinka</title>
      <link>https://sannflowers.writeas.com/335-buku-harian-dan-apa-apa-yang-hilang-vol-3-malinka?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[- -&#xA;Selasa, 23 Juni 2020.&#xA;&#xA;Selamat ulang tahun yang ketujuh belas, Leon!&#xA;&#xA;Kakak, ini aku, adikmu Shelly. Aku wakilkan tulisan hari ini ya, semenjak suamimu meninggal kamu semakin jarang menulis, sekarang sudah 3 bulan terakhir ini aku tidak pernah melihat kamu menulis buku harian lagi. Kamu mungkin sudah mulai melupakannya. Hari ini Ale sudah berusia 17 tahun, aku percaya dia akan tumbuh menjadi lelaki yang hebat dan kuat seperti yang selama ini kamu bicarakan.&#xA;&#xA;Selama aku mengenal Ale, aku tidak pernah melihatnya menangis, bahkan di hari kematian Kak Jusuf, Ale hanya menangis satu kali saat penurunan peti. Waktu kita menceritakan tentang penyakitmu juga Ale tidak menangis, dia tidak pernah menunjukan kesedihannya di depan siapapun. Tapi hari ini, di hari ulang tahunnya justru aku melihat Ale menangis. &#xA;&#xA;Kak, dia tidak bisa kudekati, waktu aku menghampirinya ke halaman belakang, dia langsung mengusap air matanya lalu tersenyum padaku, “Nggakpapa, Tan, aku seneng liat ibu sehat hari ini.” Katanya. Dari jawaban itu justru aku bisa menangkap kalau selama ini dia banyak memendam rasa takutnya terhadap kondisimu. Di umurnya yang ke-17, aku mendoakan Ale tulus dari dalam hatiku supaya dia bisa bertemu dengan seseorang yang bisa membuatnya nyaman untuk berbicara, membuatnya tidak merasa malu untuk memperlihatkan air mata selayaknya dia terbuka padamu. &#xA;&#xA;Jika nanti kamu membaca tulisan ini, tolong ingat seluruh kejadian menyenangkan di hari ini ya, kita membuat kue bersama dan terakhir kita makan kuenya di taman dekat gedung seni tempat kamu pentas untuk anak-anak panti dulu. Di taman, Ale memainkan biolanya untuk pertama kali di depan orang lain, orang-orang yang berjalan kaki semua berhenti untuk menonton permainan Ale. Kamu sangat bangga padanya.&#xA;&#xA;Kakak... aku minta maaf, tapi mungkin ini saatnya aku menceritakan tentang rencanamu untuk tinggal di eudaimonia pada Aleon. Sudah tidak ada banyak waktu lagi.&#xA;&#xA;Aku adalah salah satu orang yang paling menentang sewaktu kamu membicarakan hal ini dan memperlihatkan seluruh kepesimisanmu. Setiap aku menentang, kamu selalu bilang, &#39;Shelly, semuanya untuk Ale. Ale tidak boleh menghabiskan waktu mudanya hanya untuk merawatku, dia harus tetap hidup sebagaimananya dia akan tumbuh dan berkembang seperti seharusnya. Hidup Ale tidak boleh berputar hanya untuk aku. Lagipula ini kan hanya kemungkinan terburuknya, setiap manusia harus memiliki rencana.&#39;&#xA;&#xA;Dan sekarang aku tidak menyangka kalau kami akan benar-benar bertemu dengan kemungkinan terburuknya...&#xA;&#xA;Kak Malinka, terima kasih untuk masih mengingat tanggal ulang tahun Ale dan menjadikan usia 17 nya sangat berharga, aku tau kamu berusaha mati-matian untuk bisa mengingat tanggal ulang tahunnya. Kalau anak-anak lain mungkin mengharapkan kado-kado mewah untuk merayakan usia dewasa, Ale hanya butuh ingatanmu tetap ada, ingatanmu adalah kado terbaik untuk Ale. Ingatlah betapa bahagianya kamu sewaktu Ale lahir ke dunia, tolong ingat betapa kamu sangat menyangi Aleon, putramu.&#xA;- -&#xA;Selamat ulang tahun Aleon, putraku.&#xA;&#xA;Ibu akan mengingat hari ini sebagai kenangan paling indah karena ibu bisa menyaksikan usia 17 tahunmu, gerbang pertama telah terbuka sebelum nanti kamu membuka gerbang selanjutnya menuju perjalanan hidup yang lebih istimewa. Dan ibu akan selalu ikut bersamamu. Jangan takut ya Ale, ibu ada di sini.&#xA;&#xA;Selasa, 23 Juni 2020. Ibu akan mengingat hari ini sebagai salah satu kenangan paling indah di dalam memoriku.&#xA;Selamat ulang tahun, putraku tersayang.&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<p><strong>Selasa, 23 Juni 2020.</strong></p>

<p>Selamat ulang tahun yang ketujuh belas, Leon!</p>

<p>Kakak, ini aku, adikmu Shelly. Aku wakilkan tulisan hari ini ya, semenjak suamimu meninggal kamu semakin jarang menulis, sekarang sudah 3 bulan terakhir ini aku tidak pernah melihat kamu menulis buku harian lagi. Kamu mungkin sudah mulai melupakannya. Hari ini Ale sudah berusia 17 tahun, aku percaya dia akan tumbuh menjadi lelaki yang hebat dan kuat seperti yang selama ini kamu bicarakan.</p>

<p>Selama aku mengenal Ale, aku tidak pernah melihatnya menangis, bahkan di hari kematian Kak Jusuf, Ale hanya menangis satu kali saat penurunan peti. Waktu kita menceritakan tentang penyakitmu juga Ale tidak menangis, dia tidak pernah menunjukan kesedihannya di depan siapapun. Tapi hari ini, di hari ulang tahunnya justru aku melihat Ale menangis.</p>

<p>Kak, dia tidak bisa kudekati, waktu aku menghampirinya ke halaman belakang, dia langsung mengusap air matanya lalu tersenyum padaku, “Nggakpapa, Tan, aku seneng liat ibu sehat hari ini.” Katanya. Dari jawaban itu justru aku bisa menangkap kalau selama ini dia banyak memendam rasa takutnya terhadap kondisimu. Di umurnya yang ke-17, aku mendoakan Ale tulus dari dalam hatiku supaya dia bisa bertemu dengan seseorang yang bisa membuatnya nyaman untuk berbicara, membuatnya tidak merasa malu untuk memperlihatkan air mata selayaknya dia terbuka padamu.</p>

<p>Jika nanti kamu membaca tulisan ini, tolong ingat seluruh kejadian menyenangkan di hari ini ya, kita membuat kue bersama dan terakhir kita makan kuenya di taman dekat gedung seni tempat kamu pentas untuk anak-anak panti dulu. Di taman, Ale memainkan biolanya untuk pertama kali di depan orang lain, orang-orang yang berjalan kaki semua berhenti untuk menonton permainan Ale. Kamu sangat bangga padanya.</p>

<p>Kakak... aku minta maaf, tapi mungkin ini saatnya aku menceritakan tentang rencanamu untuk tinggal di eudaimonia pada Aleon. Sudah tidak ada banyak waktu lagi.</p>

<p>Aku adalah salah satu orang yang paling menentang sewaktu kamu membicarakan hal ini dan memperlihatkan seluruh kepesimisanmu. Setiap aku menentang, kamu selalu bilang, <em>&#39;Shelly, semuanya untuk Ale. Ale tidak boleh menghabiskan waktu mudanya hanya untuk merawatku, dia harus tetap hidup sebagaimananya dia akan tumbuh dan berkembang seperti seharusnya. Hidup Ale tidak boleh berputar hanya untuk aku. Lagipula ini kan hanya kemungkinan terburuknya, setiap manusia harus memiliki rencana.&#39;</em></p>

<p>Dan sekarang aku tidak menyangka kalau kami akan benar-benar bertemu dengan kemungkinan terburuknya...</p>

<p>Kak Malinka, terima kasih untuk masih mengingat tanggal ulang tahun Ale dan menjadikan usia 17 nya sangat berharga, aku tau kamu berusaha mati-matian untuk bisa mengingat tanggal ulang tahunnya. Kalau anak-anak lain mungkin mengharapkan kado-kado mewah untuk merayakan usia dewasa, Ale hanya butuh ingatanmu tetap ada, ingatanmu adalah kado terbaik untuk Ale. Ingatlah betapa bahagianya kamu sewaktu Ale lahir ke dunia, tolong ingat betapa kamu sangat menyangi Aleon, putramu.</p>

<hr/>

<p><em>Selamat ulang tahun Aleon, putraku.</em></p>

<p><em>Ibu akan mengingat hari ini sebagai kenangan paling indah karena ibu bisa menyaksikan usia 17 tahunmu, gerbang pertama telah terbuka sebelum nanti kamu membuka gerbang selanjutnya menuju perjalanan hidup yang lebih istimewa. Dan ibu akan selalu ikut bersamamu. Jangan takut ya Ale, ibu ada di sini.</em></p>

<p><em>Selasa, 23 Juni 2020. Ibu akan mengingat hari ini sebagai salah satu kenangan paling indah di dalam memoriku.
Selamat ulang tahun, putraku tersayang.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://sannflowers.writeas.com/335-buku-harian-dan-apa-apa-yang-hilang-vol-3-malinka</guid>
      <pubDate>Tue, 25 Jul 2023 17:27:53 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>313; Selasa kali ini semanis kue ulang tahun</title>
      <link>https://sannflowers.writeas.com/313-selasa-kali-ini-semanis-kue-ulang-tahun?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[- -&#xA;2010.&#xA;&#x9;&#xA;Di usianya yang ke 6 tahun, Aleon baru saja mendapatkan kamar tidur, walau untuk tidur di kamarnya sendiri dia masih harus ditemani dulu oleh ayahnya sampai dia benar-benar tertidur. Kalau ayahnya beranjak sebelum dia pulas, Aleon dengan jahilnya akan membuka mata, “Hayo, mau ke mana tuh ayah? Aku baru merem-mereman doang, jangan pergi dulu!” Dia tidak pernah bisa tidur di bawah jam 9 seperti seharusnya pola tidur normal anak-anak dan perlu waktu 1 sampai 2 jam selisih waktu diperlukan dari memejamkan mata sampai akhirnya bisa benar-benar tertidur. Sepertinya anak itu memang sudah bakat dalam merusak pola tidurnya sejak kecil.&#xA;&#xA;Jadi untuk membantu Aleon mendapatkan rasa kantuknya, setiap malam sebelum Aleon masuk kamar, Malinka akan membawa putranya ke ruang musik untuk memainkannya cello sambil duduk di atas pangkuannya. Inilah yang membuat Aleon kecil sedang suka-sukanya pada musik. &#xA;&#xA;Judul lagu yang dimintanya selalu sama, lihatlah lebih dekat dari film Petualangan Sherina.&#xA;&#xA;Aleon yang kala itu tingginya hanya sebatas pinggang Malinka telah duduk di atas pangkuan sang ibu. “Lagunya Sherina lagi?” tanya Malinka sambil menundukkan wajah memandang mata Aleon kecil.&#xA;&#xA;Dia hanya mengangguk, lalu menyenderkan tubuhnya dengan nyaman pada Malinka bagaikan itu adalah sandaran paling nyaman yang tidak pernah bisa dirasakan di manapun.&#xA;&#xA;Malinka terkekeh, mencuri kesempatan untuk mengusak-usak rambut tebal Aleon sebelum mulai menarik setangkai bow. “Oke. Kayak biasa Ale merem sambil boboan ke ibu ya.” &#xA;&#xA;Dinding-dinding rumah kembali merekam cerita di antara Aleon dan Malinka begitu gesekan senar pertama tergesek dengan lembut. Indahnya lantunan cello menjelajahi relung-relung gelap yang dibawa oleh langit malam. Gerakan tangan Malinka bergemulai ayu, seakan mengendarai melodi-melodinya supaya tertuju pasti pada malaikat kecil di atas pangkuannya. Aleon sangat menyukai lagu ini dan Aleon jatuh hati dua kali lipat pada lagu ini setiap kali lagunya dimainkan oleh ibunya.&#xA;&#xA;“Janganlah sedih, janganlah resah. Jangan terlalu cepat berprasangka.” Malinka tiba-tiba bernyanyi dengan suaranya yang juga merdu. Tangannya masih terus mengayun, namun matanya memejam semakin dalam di atas pucuk kepala Aleon.&#xA;&#xA;Setiap kali dia membawakan lagu ini dengan posisi putranya yang pelan-pelan terlelap di dalam dekapannya, emosinya berkecamuk, bayangannya mengingat terlalu cepat pada hari di mana Aleon kecil telah tumbuh dewasa yang pelan-pelan meninggalkan rumah untuk meninggali kehidupannya.&#xA;&#xA;“Janganlah gundah, janganlah resah. Lihat segalanya lebih dekat, dan kau bisa menilai lebih bijaksana.” &#xA;&#xA;Malinka mengintip putranya, matanya terpejam tenang, anak lelaki itu juga tanpa sadar tertidur sambil meremat renda-renda manis pada lingkar leher gaun tidurnya.&#xA;&#xA;Mengapa bintang bersinar?&#xA;Mengapa air mengalir?&#xA;Mengapa dunia berputar?&#xA;Lihat segalanya lebih dekat, dan kau akan mengerti&#xA;&#xA;Waktu berlalu begitu cepat, hanya kepada malamlah Malinka mengharapkan waktu untuk melambat untuk bisa memangku Aleon lama-lama sebelum anak itu tumbuh tinggi, dan dewasa.&#xA;&#xA;“Ale? Udah bobo sayang?” Wanita itu menepuk pelan pipi putranya. “Pindah yuk ke kamar.” Lalu mencium keningnya.&#xA;&#xA;Aleon kecil membuka matanya setelah memastikan kalau lagu yang dimainkan sekaligus dinyanyikan sang ibu telah usai. Dia menggeleng. “Kalau aku gak merem, nanti ibu nyuruh aku ke kamar karena nggak tidur-tidur, jadi aku pura-pura tidur supaya ibu nyanyinya lama. Soalnya aku mau dinyanyiin ibu lama-lama.”&#xA;&#xA;Kalimat putranya membuat Malinka tertawa gemas, dia menyatukan ujung hidung keduanya sambil menggerak-gerakan kecil kepalanya. “Malam ini mau coba bobo sendiri apa masih mau ditemenin ayah?” tanya wanita itu sembari berdeham lembut.&#xA;&#xA;“Ditemenin.” Aleon menggeleng kuat. “Aku takut sendirian kalau lampunya mati, tapi kalau lampunya dinyalain aku gak mau bobo-bobo.”&#xA;&#xA;“Hahaha, loh Ale takut gelap memangnya?”&#xA;&#xA;“Iya, kalau gelap nanti ada hantu.”&#xA;&#xA;Malinka menurunkan Aleon kecil dari atas pangkuannya, membuat putranya kebingungan karena tiba-tiba dia langsung pergi mematikan saklar lampu. Tak lama terdengar suara teriakan heboh.&#xA;&#xA;“IBUUUUU!”&#xA;&#xA;“Ada ada, halo, sini ibu ada di sini!” Malinka segera berlari menghampiri Aleon lagi. Dia mengsejajarkan diri dengan duduk bertimpuh di sebelah putranya. &#xA;&#xA;Ruang musik tidak sepenuhnya gelap setelah lampu dimatikan karena ada cahaya bulan dari luar yang menembuskan terangnya lewat ventilasi jendela, bahkan dari balik gorden, walau cahaya bulan tak seutuhnya lolos tapi tirai-tirai itu rasanya dibuat menyala.&#xA;&#xA;“Coba sekarang Ale lihat ke sekeliling, gelap gak?”&#xA;&#xA;“Sedikit. Wajah ibu masih keliatan,” Aleon menyentuh ujung hidung ibunya dengan satu jari telunjuknya yang kecil. “Tuh, ada.”&#xA;&#xA;“Itu karena Ale selalu punya bulan setiap malamnya.” Wanita itu terkekeh seraya menurunkan jari telunjuk Aleon dari hidungnya. “Kalau Ale takut, Ale bisa lihat lebih dekat ke satu titik cahaya bulan di luar, ada bulan yang nemenin Ale bobo, bahkan nggak cuma Ale, satu bumi ditemani oleh bulan.” Jawabnya penuh kasih sayang.&#xA;&#xA;“Walaupun cahayanya sedikit? Emangnya bulan tetap bisa bikin kamar aku terang?”&#xA;&#xA;“Ummm, memang sedikit, tapi kalau Ale lihat lebih lekat, cahayanya selalu dekat dengan Ale.” Malinka berbicara pada binaran mata Aleon yang berkelip kepadanya di antara cahaya remang. “Semua hal akan tampak lebih besar kalau kita mau coba lihat lebih dekat.”&#xA;- -&#xA;Tiga belas tahun kemudian anak laki-laki itu telah benar-benar jatuh ke dalam musik, dia bahkan sudah bisa memainkan biolanya sendiri untuk diperdengarkan pada orang-orang. Jika ibunya tahu, dia pasti bangga, mereka mungkin bisa berkolaborasi untuk menciptakan ruang aman bagi mereka yang tersesat. Namun tiga belas tahun kemudian, anak laki-laki itulah yang tersesat. &#xA;&#xA;Tiga belas tahun kemudian, Malinka yang dulu khawatir kalau anak satu-satunya beranjak dewasa sekarang beralih jadi sosok yang justru dikhawatirkan oleh putranya. Selasa sore seperti biasa, hari ini Aleon membuka lagi kenangan kecilnya dengan memainkan lagu lihatlah lebih dekat yang sebenarnya khusus untuk ibunya. Malinka ada di sana, menontonnya seperti biasa sambil mengayun-ayunkan kepala ke kanan dan ke kiri mengikuti lantunan biola manis dari putranya, senyumnya tersimpul tipis seumpama bangga. Aleon selalu memimpikan hari di mana dia bisa memainkan lagu untuk ibunya. Tapi tiga belas tahun kemudian nyatanya hanya membawa dirinya menjadi asing bagi sang ibu.&#xA;&#xA;Jumat lalu, dia senang minta ampun waktu Dylan benar-benar mendeklarasikan kalau rumah cemara akan berkolaborasi dengan sanggar maheswara sekaligus melangsungkan projeknya di gedung seni. Tanpa ba bi bu Aleon memberi usul agar memberikan undangan spesial juga bagi anak-anak di Yayasan panti asuhan untuk menonton pementasan, juga teman-teman lansia di rumah jompo milik tantenya. Karena tahun ini, donasi yang dikeluarkan akan terbilang banyak maka hasil donasi dari keduanya akan banyak disalurkan ke beberapa pihak dan Yayasan, termasuk Eudaimonia senior living, sudah pasti ide dari Aleon lagi. Dia ‘memanfaatkan’ projek ini untuk menjadi-lebih-dekat dengan ibunya. Dia juga sudah menceritakan semua rencana rumah cemara pada Shelly dan mendapat 100% dukungan penuh.&#xA;&#xA;Aleon menghampiri Malinka sewaktu satu per satu orang meninggalkan ruang santai. Lingkaran kursi sudah tertata lagi seperti susunan awal. Di saat para penghuni beranjak pergi bersantai ke pendopo, mencari makanan ke dapur atau istirahat ke kamar masing-masing, Malinka memilih diam di sana, duduk pada satu kursi empuk di sebelah jendela yang mengarah ke danau buatan, ia membawa kanvas pola berukuran 40x60 yang siap diwarnai sesuai arahan nomor.&#xA;&#xA;“Ibu, nggak ikut ke pendopo?” Lelaki itu melutut sopan di depan kursi Malinka untuk memberinya kontak mata selama berbicara.&#xA;&#xA;“Banyak orang, terlalu berisik.” Jawabnya, tapi pandangannya menjelajah gusar pada sekitar sambil meraba-raba kursinya.&#xA;&#xA;Aleon yang menyadari bertanya sigap. “Kenapa, ibu? Ada yang hilang?”&#xA;&#xA;“Kuas sama cat airnya di mana ya? Kan sudah aku bawa.” Matanya masih mencari-cari ke sekitar. Ini keseharian yang biasa di kehidupan baru Malinka.&#xA;&#xA;Jika dipertanyakan lebih lanjut di mana terakhir ia menyimpan alat lukisnya atau disuruh meyakinkan lagi apakah dia benar-benar sudah membawanya yang ada hanya membuat wanita itu semakin bingung. Yang harus Aleon lakukan untuk berkomunikasi dengan ibunya adalah dengan mendengarkan dan merespons langsung apapun yang diucapkan tanpa memicu perdebatan.&#xA;&#xA;“Aku bantu cari, ya.” Aleon menaruh tangannya dengan lembut di atas punggung tangan Malinka, namun segera ditahan saat ia hendak beranjak.&#xA;&#xA;“Nggakpapa Leon, nanti saja.”&#xA;&#xA;Aleon tersenyum sendu, lalu melutut lagi.&#xA;&#xA;Sudah berkali-kali Malinka menyebut namanya tetapi rasa asingnya justru terbentuk semakin kuat setiap ibunya memanggil dengan nama Leon, semakin menyedihkan lagi ketika namanya hanya dikenal sebagai pemain biola yang senang berkunjung ke senior living. Setidaknya itu tetap sedikit lebih baik daripada mendengar nama kecilnya disebut oleh Malinka yang sudah tidak mengenali Ale sebagai anak lelaki yang dulu banyak tertidur di pangkuannya.&#xA;&#xA;Semilir angin sore menggelitik tubuh lewat celah-celah jendela, membuat siapapun tidak mampu menolak sejuknya udara dingin. Pelan-pelan Malinka memejamkan matanya pada sandaran kursi, hembusan napasnya sangat tenang bagai sahut percakapan para penghuni yang terdengar dari pendopo sana tidak membisingkan dunianya. Situasi tersebut dimanfaatkan oleh Aleon untuk memandangi cantik ibunya tanpa khawatir tertangkap basah lalu membuat wanita itu takut, dia menaruh dagunya di atas sandaran tangan kursi dan mengagumi betapa bersyukurnya pada kehadiran Malinka di setiap harinya. Bagaimana pun keadaannya dia berlega hati kalau ibunya masih bisa direngkuh dalam sentuhan nyata.&#xA;&#xA;Malinka mengejutkan putranya dengan membuka mata tiba-tiba, untungnya tidak tertangkap basah karena Aleon segera mengalihkan pandangan seolah menikmati langit senja dari balik jendela,&#xA;&#xA;“Aku senang dengan lagu yang kamu mainkan tadi.” Kata Malinka tanpa aba-aba.&#xA;&#xA;Aleon menaruh kontak mata lagi, wajahnya terlihat terkejut penuh harap. “Ibu tau lagunya? Itu lagu kesukaanku waktu kecil.”&#xA;&#xA;Namun wanita itu menggeleng. &#xA;&#xA;“Tapi menyenangkan untuk didengar, aku suka lagunya.” Dia membalas tatapan mata Aleon, lalu tersenyum tipis.&#xA;&#xA;Dan Aleon hanya bisa menjaga senyumannya.&#xA;&#x9;&#xA;“Nanti aku ajak ibu sama temen-temen lain di sini buat nonton pementasan musik yang lebih besar ya, dari acara organisasi aku. Nanti ada biola, piano, terus… cello, pasti lebih menyenangkan untuk didengar.”&#xA;&#xA;“Kamu yang main?”&#xA;&#xA;“Kayaknya sih, enggak, aku gak bisa ikut main di atas panggung.”&#xA;&#xA;“Kenapa?”&#xA;&#xA;“Panggungnya terlalu besar.” Aleon terkekeh. &#xA;&#xA;“Kenapa memangnya kalau terlalu besar?” Ibunya membulatkan bibir. Aleon tidak bisa menyembunyikan tawanya, rasanya seperti sedang bergurau dengan sang ibu padahal Malinka hanya membulatkan bibir.&#xA;&#xA;“Belum waktunya aku main di panggung besar. Lagian temen-temenku udah panggil seniman-seniman hebat buat tampil di sana.”&#xA;&#xA;Malinka tersenyum lagi. “Kamu juga pemain biola yang hebat, aku selalu suka permainanmu.”&#xA;&#xA;“Hahaha. Kalau lagu yang tadi gimana? Ibu suka juga gak?”&#xA;&#xA;“Bagus. Aku suka.”&#xA;&#xA;“Yang benaaar?” Aleon memiringkan kepala lalu berekspresi dengan matanya yang bulat, posisi dagunya masih menempel pada sandaran kursi Malinka.&#xA;&#xA;“Yaaa, kamu pemain biola yang hebat!” jawab wanita itu dengan intonasi meninggi.&#xA;&#xA;Aleon tertawa lepas, ini adalah intonasi suara paling semangat yang terdengar dari ibunya semenjak ingatannya semakin kacau dan waktu mengubah kepribadian menyenangkannya menjadi tidak banyak berbicara.&#xA;&#x9;&#xA;Walau pujian ibu masih terasa asing, obrolan kecil kami terasa begitu nyata. Aku tidak lagi menghindari percakapan dengan ibu hanya karena tidak cukup kuat untuk dianggap asing, aku juga sudah berani menatap lekat-lekat wajah ibu lebih dari 7 detik tanpa merasa takut akan hari selanjutnya.&#xA;&#xA;Selasa kali ini rasanya manis seperti kue ulang tahun karena aku bisa merasa sedikit lebih dekat lagi dengan ibu. Ibu boleh menganggap ini sebagai obrolan antara lansia dan pemain biola, tapi bagiku ini akan selalu tentang ibu dan Ale. Dan minggu-minggu selanjutnya juga pasti begitu. Ale akan hidup kembali.&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<p><em>2010.</em></p>

<p>Di usianya yang ke 6 tahun, Aleon baru saja mendapatkan kamar tidur, walau untuk tidur di kamarnya sendiri dia masih harus ditemani dulu oleh ayahnya sampai dia benar-benar tertidur. Kalau ayahnya beranjak sebelum dia pulas, Aleon dengan jahilnya akan membuka mata, <em>“Hayo, mau ke mana tuh ayah? Aku baru merem-mereman doang, jangan pergi dulu!”</em> Dia tidak pernah bisa tidur di bawah jam 9 seperti seharusnya pola tidur normal anak-anak dan perlu waktu 1 sampai 2 jam selisih waktu diperlukan dari memejamkan mata sampai akhirnya bisa benar-benar tertidur. Sepertinya anak itu memang sudah bakat dalam merusak pola tidurnya sejak kecil.</p>

<p>Jadi untuk membantu Aleon mendapatkan rasa kantuknya, setiap malam sebelum Aleon masuk kamar, Malinka akan membawa putranya ke ruang musik untuk memainkannya cello sambil duduk di atas pangkuannya. Inilah yang membuat Aleon kecil sedang suka-sukanya pada musik.</p>

<p>Judul lagu yang dimintanya selalu sama, <em>lihatlah lebih dekat</em> dari film <em>Petualangan Sherina</em>.</p>

<p>Aleon yang kala itu tingginya hanya sebatas pinggang Malinka telah duduk di atas pangkuan sang ibu. “Lagunya Sherina lagi?” tanya Malinka sambil menundukkan wajah memandang mata Aleon kecil.</p>

<p>Dia hanya mengangguk, lalu menyenderkan tubuhnya dengan nyaman pada Malinka bagaikan itu adalah sandaran paling nyaman yang tidak pernah bisa dirasakan di manapun.</p>

<p>Malinka terkekeh, mencuri kesempatan untuk mengusak-usak rambut tebal Aleon sebelum mulai menarik setangkai bow. “Oke. Kayak biasa Ale merem sambil boboan ke ibu ya.”</p>

<p>Dinding-dinding rumah kembali merekam cerita di antara Aleon dan Malinka begitu gesekan senar pertama tergesek dengan lembut. Indahnya lantunan cello menjelajahi relung-relung gelap yang dibawa oleh langit malam. Gerakan tangan Malinka bergemulai ayu, seakan mengendarai melodi-melodinya supaya tertuju pasti pada malaikat kecil di atas pangkuannya. Aleon sangat menyukai lagu ini dan Aleon jatuh hati dua kali lipat pada lagu ini setiap kali lagunya dimainkan oleh ibunya.</p>

<p>“<em>Janganlah sedih, janganlah resah. Jangan terlalu cepat berprasangka.</em>” Malinka tiba-tiba bernyanyi dengan suaranya yang juga merdu. Tangannya masih terus mengayun, namun matanya memejam semakin dalam di atas pucuk kepala Aleon.</p>

<p>Setiap kali dia membawakan lagu ini dengan posisi putranya yang pelan-pelan terlelap di dalam dekapannya, emosinya berkecamuk, bayangannya mengingat terlalu cepat pada hari di mana Aleon kecil telah tumbuh dewasa yang pelan-pelan meninggalkan rumah untuk meninggali kehidupannya.</p>

<p>“<em>Janganlah gundah, janganlah resah. Lihat segalanya lebih dekat, dan kau bisa menilai lebih bijaksana.</em>”</p>

<p>Malinka mengintip putranya, matanya terpejam tenang, anak lelaki itu juga tanpa sadar tertidur sambil meremat renda-renda manis pada lingkar leher gaun tidurnya.</p>

<p><em>Mengapa bintang bersinar?
Mengapa air mengalir?
Mengapa dunia berputar?
Lihat segalanya lebih dekat, dan kau akan mengerti</em></p>

<p>Waktu berlalu begitu cepat, hanya kepada malamlah Malinka mengharapkan waktu untuk melambat untuk bisa memangku Aleon lama-lama sebelum anak itu tumbuh tinggi, dan dewasa.</p>

<p>“Ale? Udah bobo sayang?” Wanita itu menepuk pelan pipi putranya. “Pindah yuk ke kamar.” Lalu mencium keningnya.</p>

<p>Aleon kecil membuka matanya setelah memastikan kalau lagu yang dimainkan sekaligus dinyanyikan sang ibu telah usai. Dia menggeleng. “Kalau aku gak merem, nanti ibu nyuruh aku ke kamar karena nggak tidur-tidur, jadi aku pura-pura tidur supaya ibu nyanyinya lama. Soalnya aku mau dinyanyiin ibu lama-lama.”</p>

<p>Kalimat putranya membuat Malinka tertawa gemas, dia menyatukan ujung hidung keduanya sambil menggerak-gerakan kecil kepalanya. “Malam ini mau coba bobo sendiri apa masih mau ditemenin ayah?” tanya wanita itu sembari berdeham lembut.</p>

<p>“Ditemenin.” Aleon menggeleng kuat. “Aku takut sendirian kalau lampunya mati, tapi kalau lampunya dinyalain aku gak mau bobo-bobo.”</p>

<p>“Hahaha, loh Ale takut gelap memangnya?”</p>

<p>“Iya, kalau gelap nanti ada hantu.”</p>

<p>Malinka menurunkan Aleon kecil dari atas pangkuannya, membuat putranya kebingungan karena tiba-tiba dia langsung pergi mematikan saklar lampu. Tak lama terdengar suara teriakan heboh.</p>

<p>“IBUUUUU!”</p>

<p>“Ada ada, halo, sini ibu ada di sini!” Malinka segera berlari menghampiri Aleon lagi. Dia mengsejajarkan diri dengan duduk bertimpuh di sebelah putranya.</p>

<p>Ruang musik tidak sepenuhnya gelap setelah lampu dimatikan karena ada cahaya bulan dari luar yang menembuskan terangnya lewat ventilasi jendela, bahkan dari balik gorden, walau cahaya bulan tak seutuhnya lolos tapi tirai-tirai itu rasanya dibuat menyala.</p>

<p>“Coba sekarang Ale lihat ke sekeliling, gelap gak?”</p>

<p>“Sedikit. Wajah ibu masih keliatan,” Aleon menyentuh ujung hidung ibunya dengan satu jari telunjuknya yang kecil. “Tuh, ada.”</p>

<p>“Itu karena Ale selalu punya bulan setiap malamnya.” Wanita itu terkekeh seraya menurunkan jari telunjuk Aleon dari hidungnya. “Kalau Ale takut, Ale bisa lihat lebih dekat ke satu titik cahaya bulan di luar, ada bulan yang nemenin Ale bobo, bahkan nggak cuma Ale, satu bumi ditemani oleh bulan.” Jawabnya penuh kasih sayang.</p>

<p>“Walaupun cahayanya sedikit? Emangnya bulan tetap bisa bikin kamar aku terang?”</p>

<p>“<em>Ummm</em>, memang sedikit, tapi kalau Ale lihat lebih lekat, cahayanya selalu dekat dengan Ale.” Malinka berbicara pada binaran mata Aleon yang berkelip kepadanya di antara cahaya remang. “Semua hal akan tampak lebih besar kalau kita mau coba lihat lebih dekat.”</p>

<hr/>

<p>Tiga belas tahun kemudian anak laki-laki itu telah benar-benar jatuh ke dalam musik, dia bahkan sudah bisa memainkan biolanya sendiri untuk diperdengarkan pada orang-orang. Jika ibunya tahu, dia pasti bangga, mereka mungkin bisa berkolaborasi untuk menciptakan ruang aman bagi mereka yang tersesat. Namun tiga belas tahun kemudian, anak laki-laki itulah yang tersesat.</p>

<p>Tiga belas tahun kemudian, Malinka yang dulu khawatir kalau anak satu-satunya beranjak dewasa sekarang beralih jadi sosok yang justru dikhawatirkan oleh putranya. Selasa sore seperti biasa, hari ini Aleon membuka lagi kenangan kecilnya dengan memainkan lagu <em>lihatlah lebih dekat</em> yang sebenarnya khusus untuk ibunya. Malinka ada di sana, menontonnya seperti biasa sambil mengayun-ayunkan kepala ke kanan dan ke kiri mengikuti lantunan biola manis dari putranya, senyumnya tersimpul tipis seumpama bangga. Aleon selalu memimpikan hari di mana dia bisa memainkan lagu untuk ibunya. Tapi <em>tiga belas tahun</em> kemudian nyatanya hanya membawa dirinya menjadi asing bagi sang ibu.</p>

<p>Jumat lalu, dia senang minta ampun waktu Dylan benar-benar mendeklarasikan kalau rumah cemara akan berkolaborasi dengan sanggar maheswara sekaligus melangsungkan projeknya di gedung seni. Tanpa <em>ba bi bu</em> Aleon memberi usul agar memberikan undangan spesial juga bagi anak-anak di Yayasan panti asuhan untuk menonton pementasan, juga teman-teman lansia di rumah jompo milik tantenya. Karena tahun ini, donasi yang dikeluarkan akan terbilang banyak maka hasil donasi dari keduanya akan banyak disalurkan ke beberapa pihak dan Yayasan, termasuk Eudaimonia senior living, sudah pasti ide dari Aleon lagi. Dia ‘memanfaatkan’ projek ini untuk menjadi-lebih-dekat dengan ibunya. Dia juga sudah menceritakan semua rencana rumah cemara pada Shelly dan mendapat 100% dukungan penuh.</p>

<p>Aleon menghampiri Malinka sewaktu satu per satu orang meninggalkan ruang santai. Lingkaran kursi sudah tertata lagi seperti susunan awal. Di saat para penghuni beranjak pergi bersantai ke pendopo, mencari makanan ke dapur atau istirahat ke kamar masing-masing, Malinka memilih diam di sana, duduk pada satu kursi empuk di sebelah jendela yang mengarah ke danau buatan, ia membawa kanvas pola berukuran 40x60 yang siap diwarnai sesuai arahan nomor.</p>

<p>“Ibu, nggak ikut ke pendopo?” Lelaki itu melutut sopan di depan kursi Malinka untuk memberinya kontak mata selama berbicara.</p>

<p>“Banyak orang, terlalu berisik.” Jawabnya, tapi pandangannya menjelajah gusar pada sekitar sambil meraba-raba kursinya.</p>

<p>Aleon yang menyadari bertanya sigap. “Kenapa, ibu? Ada yang hilang?”</p>

<p>“Kuas sama cat airnya di mana ya? Kan sudah aku bawa.” Matanya masih mencari-cari ke sekitar. Ini keseharian yang biasa di kehidupan <em>baru</em> Malinka.</p>

<p>Jika dipertanyakan lebih lanjut di mana terakhir ia menyimpan alat lukisnya atau disuruh meyakinkan lagi apakah dia benar-benar sudah membawanya yang ada hanya membuat wanita itu semakin bingung. Yang harus Aleon lakukan untuk berkomunikasi dengan ibunya adalah dengan mendengarkan dan merespons langsung apapun yang diucapkan tanpa memicu perdebatan.</p>

<p>“Aku bantu cari, ya.” Aleon menaruh tangannya dengan lembut di atas punggung tangan Malinka, namun segera ditahan saat ia hendak beranjak.</p>

<p>“Nggakpapa Leon, nanti saja.”</p>

<p>Aleon tersenyum sendu, lalu melutut lagi.</p>

<p>Sudah berkali-kali Malinka menyebut namanya tetapi rasa asingnya justru terbentuk semakin kuat setiap ibunya memanggil dengan nama Leon, semakin menyedihkan lagi ketika namanya hanya dikenal sebagai pemain biola yang senang berkunjung ke senior living. Setidaknya itu tetap sedikit lebih baik daripada mendengar nama kecilnya disebut oleh Malinka yang sudah tidak mengenali Ale sebagai anak lelaki yang dulu banyak tertidur di pangkuannya.</p>

<p>Semilir angin sore menggelitik tubuh lewat celah-celah jendela, membuat siapapun tidak mampu menolak sejuknya udara dingin. Pelan-pelan Malinka memejamkan matanya pada sandaran kursi, hembusan napasnya sangat tenang bagai sahut percakapan para penghuni yang terdengar dari pendopo sana tidak membisingkan dunianya. Situasi tersebut dimanfaatkan oleh Aleon untuk memandangi cantik ibunya tanpa khawatir tertangkap basah lalu membuat wanita itu takut, dia menaruh dagunya di atas sandaran tangan kursi dan mengagumi betapa bersyukurnya pada kehadiran Malinka di setiap harinya. Bagaimana pun keadaannya dia berlega hati kalau ibunya masih bisa direngkuh dalam sentuhan nyata.</p>

<p>Malinka mengejutkan putranya dengan membuka mata tiba-tiba, untungnya tidak tertangkap basah karena Aleon segera mengalihkan pandangan seolah menikmati langit senja dari balik jendela,</p>

<p>“Aku senang dengan lagu yang kamu mainkan tadi.” Kata Malinka tanpa aba-aba.</p>

<p>Aleon menaruh kontak mata lagi, wajahnya terlihat terkejut penuh harap. “Ibu tau lagunya? Itu lagu kesukaanku waktu kecil.”</p>

<p>Namun wanita itu menggeleng.</p>

<p>“Tapi menyenangkan untuk didengar, aku suka lagunya.” Dia membalas tatapan mata Aleon, lalu tersenyum tipis.</p>

<p>Dan Aleon hanya bisa menjaga senyumannya.</p>

<p>“Nanti aku ajak ibu sama temen-temen lain di sini buat nonton pementasan musik yang lebih besar ya, dari acara organisasi aku. Nanti ada biola, piano, terus… cello, pasti lebih menyenangkan untuk didengar.”</p>

<p>“Kamu yang main?”</p>

<p>“Kayaknya sih, enggak, aku gak bisa ikut main di atas panggung.”</p>

<p>“Kenapa?”</p>

<p>“Panggungnya terlalu besar.” Aleon terkekeh.</p>

<p>“Kenapa memangnya kalau terlalu besar?” Ibunya membulatkan bibir. Aleon tidak bisa menyembunyikan tawanya, rasanya seperti sedang bergurau dengan sang ibu padahal Malinka hanya membulatkan bibir.</p>

<p>“Belum waktunya aku main di panggung besar. Lagian temen-temenku udah panggil seniman-seniman hebat buat tampil di sana.”</p>

<p>Malinka tersenyum lagi. “Kamu juga pemain biola yang hebat, aku selalu suka permainanmu.”</p>

<p>“Hahaha. Kalau lagu yang tadi gimana? Ibu suka juga gak?”</p>

<p>“Bagus. Aku suka.”</p>

<p>“Yang benaaar?” Aleon memiringkan kepala lalu berekspresi dengan matanya yang bulat, posisi dagunya masih menempel pada sandaran kursi Malinka.</p>

<p>“Yaaa, kamu pemain biola yang hebat!” jawab wanita itu dengan intonasi meninggi.</p>

<p>Aleon tertawa lepas, ini adalah intonasi suara paling semangat yang terdengar dari ibunya semenjak ingatannya semakin kacau dan waktu mengubah kepribadian menyenangkannya menjadi tidak banyak berbicara.</p>

<p><em>Walau pujian ibu masih terasa asing, obrolan kecil kami terasa begitu nyata. Aku tidak lagi menghindari percakapan dengan ibu hanya karena tidak cukup kuat untuk dianggap asing, aku juga sudah berani menatap lekat-lekat wajah ibu lebih dari 7 detik tanpa merasa takut akan hari selanjutnya.</em></p>

<p><em>Selasa kali ini rasanya manis seperti kue ulang tahun karena aku bisa merasa sedikit lebih dekat lagi dengan ibu. Ibu boleh menganggap ini sebagai obrolan antara lansia dan pemain biola, tapi bagiku ini akan selalu tentang ibu dan Ale. Dan minggu-minggu selanjutnya juga pasti begitu. Ale akan hidup kembali.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://sannflowers.writeas.com/313-selasa-kali-ini-semanis-kue-ulang-tahun</guid>
      <pubDate>Tue, 13 Jun 2023 13:21:08 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>307; A plan</title>
      <link>https://sannflowers.writeas.com/307-a-plan?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[- -&#xA;Berkat bantuan Atha, aku bisa mempertemukan Kak Dylan dengan Kak Farras.&#xA;&#xA;Aku sudah sering melihat Kak Dylan beberapa kali, lewat foto, ada lumayan banyak foto-foto Kak Dylan selama berkegiatan mengajar di kamera Aleon. Lelaki yang selalu telihat lebih menonjol di antara kumpulan orang-orang di dalam foto, mata siapapun akan dengan mudah mengarah pada Kak Dylan tanpa ia perlu berpose keren, ternyata aslinya juga begitu. Ada banyak orang-orang yang duduk bersantai di kursi panjang dekat air mancur di depan gedung kesenian, menikmati udara malam, tapi Kak Dylan sangat mudah untuk ditemukan walau dia sedang menunduk fokus mengecek ulang lembaran proposal yang nanti akan diberikan pada Kak Farras, kemeja biru denimnya membuat kulit putih Kak Dylan menyilau dua kali lipat walau hari sudah gelap.&#xA;&#xA;Dia melambaikan tangan begitu Atha memanggil dari kejauhan, dia juga tersenyum, memunculkan dua lesung pipitnya yang sama-sama menyapa kami.&#xA;&#xA;Setelah bertukar sapa, aku dan Kak Dylan saling berterima kasih lalu berkenalan singkat, kami langsung masuk ke dalam gedung, menyambung percakapan di sepanjang langkah sekaligus aku menjelaskan ulang planning-ku pada Kak Dylan karena curiga banyak kalimat yang dilebih-lebihkan di versi Atha. Kami bertiga telah membuat janji dengan Kak Farras di sini, gedung kesenian maheswara.&#xA;&#xA;Suasana gedung ini terasa sama sunyinya seperti kali kedua aku mengunjunginya, entah sunyi karena sedang tidak ada pertunjukan atau karena sisa kenangan Aleon pada gedung ini sekarang ikut berpindah kepadaku.&#xA;&#xA;Di depan pintu auditorium satu, seorang wanita berambut panjang bergelombang telah menunggu kedatangan kami dengan menyuguhkan senyum sempurnanya yang begitu cantik. Aroma parfum Kak Farras bahkan bisa kucium dari jarak 5 langkah, aku tidak terlalu bisa mendeskripsikan wangi seseorang, tapi sepertinya aku mencium wangi green pear dengan perpaduan manis bunga jasmine? Dia cantik. Aku rasa dia bisa kujodohkan dengan Kak Dylan kalau saja dia tidak punya pacar.&#xA;&#xA;“Halo!” sapanya. Suaranya lembut sekali, benar-benar cocok dengan parasnya yang anggun.&#xA;&#xA;Kami saling berjabat tangan. Setelah memperkenalkan Atha, aku memperkenalkan Kak Dylan.&#xA;&#xA;“Kak Farras, ini Kak Dylan, ketua pelaksana dari organisasi rumah cemara yang mau kolaborasi projek bareng sanggar maheswara.” Lalu lelaki itu membungkuk sopan.&#xA;&#xA;“Ah, it such an honor bisa langsung ketemu Dylan! Ayo, kita ngobrol di dalem,&#34; ajaknya seraya berjalan masuk.&#xA;&#xA;Auditorium ini lebih besar dari ruang kedua yang kemarin aku dan Aleon kunjungi, secara interior susunannya tidak jauh berbeda, hanya saja jumlah kursinya lebih banyak dan panggungnya lebih besar, di atas sana tidak hanya ada satu piano tapi juga 2 buah cello dan 1 harpa. Kesan hangat dari cahaya-cahaya lampu keemasan membuat ruang ini lebih terlihat sebagai panggung pementasan klasik.&#xA;&#xA;Selagi Kak Farras dan Kak Dylan berjalan di depan kami—sepertinya sudah mulai membicarakan projek rumah cemara, Atha berbisik kepadaku.&#xA;&#xA;“Jan, are you sure?”&#xA;&#xA;“Why?” &#xA;&#xA;Atha memiringkan kepala, “Oke juga lo gue liat-liat jadi pencetus ide projekan orang, projek gede lagi.” Lalu dia menoyor kepalaku.&#xA;&#xA;Aku menoyor balik. “Ya, karena gue butuh bantuan mereka juga sih. Gue nggak mampulah handle acara-acara begini sendirian, ditambah nyewa auditorium, belum anak drama, orchestra? Masa tunggu gue punya pabrik kue dulu. Kecuali kita adiknya ci Valen.”&#xA;&#xA;“Ci Valen?” Atha menyatukan alis. Kami masih berbisik-bisik.&#xA;&#xA;“Valencia Tanoesoedibjo.”&#xA;&#xA;“Akrab lu ci valen ci valen.” Aku ditoyor lagi. “Baiklah, aku mendukung keculasanmu.”&#xA;&#xA;“Heh?! Itu tuh simbiosis mutualisme tau.” Terakhir, aku membalas dengan menyentil jakunnya.&#xA;&#xA;Kak Farras mengajak kami untuk duduk ke barisan kursi paling depan,. Perempuan itu duduk di antara aku dan Kak Dylan, lalu Atha yang hari ini akan berperan sebagai kambing conge duduk di sebelahku.&#xA;&#xA;“Aku udah dapet sedikit bayangan dari projeknya Dylan,” Kak Farras memimpin obrolan, dia telah membolak-balik lembaran proposal milik Kak Dylan. “Sebenernya ada info nyelip yang belum aku ceritain nih Jan kemarin. Timeline projek rumah cemara itu hitungannya bareng sama projek rutinan sanggar maheswara.”&#xA;&#xA;Aku memasang telinga, seluruh pandanganku hanya berfokus pada Kak Farras.&#xA;&#xA;“Sanggar maheswara punya acara rutinan?” tanya Kak Dylan.&#xA;&#xA;Kak Farras mengangguk seraya tersenyum. “Di kuartal kedua dan keempat tiap tahunnya, sanggar maheswara selalu menyelenggarakan pementasan gratis untuk umum, kuotanya memang nggak banyak sih, biasanya paling banyak pun 100 kursi. Jadi pendaftarannya rebutan gitu, formnya cuma di-share di akun sosial media punya sanggar. Semacam limited invitation untuk temen-temen yang ngikutin acara-acara sanggar. Makanya waktu aku denger-denger sedikit info dari Anjani tentang rumah cemara, aku rasa ini bisa diajak diskusi lebih lanjut.”&#xA;&#xA;“Oh, kayaknya aku pernah tau.” Atha tiba-tiba merespons, kami bertiga menoleh.&#xA;&#xA;“Kamu pernah nonton, Tha?” tanya Kak Farras antusias. Sungguh, pembawaan wanita itu benar-benar sangat menyenangkan.&#xA;&#xA;Atha menggeleng. “Ada temen aku, kalau nggak salah akhir tahun lalu mau nonton violin concer gratis, dapetin undangannya rebutan. Apa jangan-jangan maksudnya itu acara punya sanggar maheswara, ya?”&#xA;&#xA;“Iya! Di kuartal 4 tahun kemarin sanggar maheswara nampilin pementasan biola.”&#xA;&#xA;“Violin concert? Serius?” sambungku. “Yah, sayang banget aku gak pernah tau.”&#xA;&#x9;&#xA;“Nggak selalu konser biola.” Kak Farras menjawab lagi. “Pentasnya beda-beda. Makanya untuk temen-temen maheswara, kita nyebut mereka yang ikutin sanggar maheswara sebagai temen-temen by the way, kenapa acara ini selalu ditunggu-tunggu salah satunya karena isi pentasnya selalu surprise. Bisa konser musik instrumental, choir, musical drama, dan lain-lain!”&#xA;&#xA;“Kereeen, baik banget sanggar maheswara mau kasih pementasan seni secara cuma-cuma tiap tahun. Yang kita tau kan harga tiket acara simfoni gitu gak murah.” Kak Dylan membalas, lesing pipitnya pasti ikut muncul saat dia berbicara.&#xA;&#xA;“Memang itu alasan eyang mengambil hak milik gedung kesenian ini. Beliau pengen kalau suatu saat punya aula sendiri, bisa tampilin pementasan yang bisa ditonton secara gratis.” Kata Kak Farras. “Menurut eyang, semua orang perlu menikmati pertunjukan seni setidaknya sekali seumur hidup. Gemaan musik orchestra yang didengar di dalam aula itu nggak akan bisa ditemui di manapun, orang-orang bisa menemukan dunia baru di dalam sana.”&#xA;&#xA;Perihal dunia baru yang ditemukan, Ibu Malinka juga ingin menciptakan ruang aman lewat musik. Dia berharap senandung melodi yang dimainkan dapat memandu jiwa-jiwa lelah untuk beristirahat sejenak sebelum kembali mencari asa yang hilang.&#xA;&#xA;“Nah, setelah tau tentang charity project rumah cemara, lalu secara &#xA;timeline juga kita barengan, aku jadi kepikiran ide.” Sekarang wanita di sebelahku menoleh pada Kak Dylan. “Dylan, gimana kalau projek kalian tahun ini kolaborasi bareng sanggar maheswara? Nanti, 100% dana yang kita dapetin dari projek ini, entah dari tiket masuk atau lainnya, kita sumbangkan ke pihak-pihak yang membutuhkan. Gimana?”&#xA;&#xA;Mendengar itu, Kak Dylan tersenyum semringah seakan satu beban pikirannya terselesaikan. “Ide bagus. Super duper setuju,” sahutnya.&#xA;&#xA;Dan aku yang dari tadi menyimak obrolan mereka, diam-diam menarik senyumku yang bahkan bisa jauh lebih lebar dari dua orang pemilik projek itu sendiri, Atha juga menyenggol pelan lenganku sebagai maksud kalau aku berhasil. Angan-angan selewat yang tidak tahu kenapa bisa terlibat di dalam kepalaku tiba-tiba akan benar direalisasikan dengan bantuan beberapa pihak. Mungkin bisa dibilang privilege, but I’m grateful to have the privilege, lewat orang-orang dan lingkungan yang ditinggali Mas Khai juga manusia-manusia keren di sekelilingku.&#xA;&#xA;Aku berharap, projek ini tidak hanya memberi kenangan baru untuk Aleon, tapi juga sebagai bentuk dukungan kecil kami yang bisa diterimanya dalam proses berdamai pada suatu hal yang perlu diikhlaskan.&#xA;&#xA;“Kalau gitu ini proposalnya aku ajuin dulu ke tim ya, nanti pasti aku bantu jelasin ulang biar di-acc!” ucap Kak Farras setelah menerima satu map dari Kak Dylan. “Nanti semisal udah dapet kabar dan disetujui sama pihak sanggar, aku kabarin lagi untuk meeting lanjutan. Kira-kira mau langsung ke Dylan aja atau gimana, Jani?”&#xA;&#xA;Pertanyaan itu memecah lamunanku. “Langsung ke Kak Dylan aja kak, role-ku udah selesai sampe sini aja kok, hahaha.”&#xA;&#xA;“Anjani, Atha, makasih banyak ya.” Sambil tertawa kecil juga, Kak Farras menjabat tangan kami berdua. “Aku tuh sempet kaget waktu Izza bilang ada temennya yang mau ngobrol penting sama aku, bingung, kok bisa tiba-tiba mau ngobrol padahal aku belum pernah kenalan langsung sama temen-temennya yang di Dubai. Eh, ternyata mau ngenalin kamu, yang katanya abis stalking instagramku,” sambungnya sambil sedikit menggodaku dengan sunggingan bibir.&#xA;&#xA;Aku hanya bisa tertawa… karir. “Hehehehehehehehehehehe iya hehehehe.” Malu.&#xA;&#xA;“Khai udah pulang ke Indonesia?”&#xA;&#xA;“Belum, katanya masih ada yang perlu diurus, mungkin paling lama bulan depan.”&#xA;&#xA;&#34;Looking forward to hearing good news from you soon, Kak Farras, makasih banyak.&#34; Kata Kak Dylan sembari berjabat tangan. Setelahnya, Kak Dylan juga ikut berterima kasih padaku. &#xA;&#xA;Di sinilah aku mendapat celah untuk membicarakan rencana pribadi yang kutahan-tahan dari tadi karena menunggu keputusan terlebih dulu.&#xA;&#xA;“Kak Farras, Kak Dylan,” panggilku. Tatapan mata dari keduanya membuatku menjeda kalimat, memilah ulang lagi kata-kata yang ingin kusuarakan sambil berdeham. &#34;Sebelumnya aku minta maaf kalau terkesan paling semangat atau mengatur acara kalian, tapi, boleh nggak kalau aku kasih saran untuk projek acaranya? You guys can take it or leave it, kok…” Aku sedikit merasa tidak enak.&#xA;&#xA;Mungkin Kak Farras merasakan kegugupanku, karena tiba-tiba dia langsung merangkul sebagai ucapan ya. Sama halnya dengan Kak Dylan yang juga membolehkan. “Silakan, Jan, gak usah sungkan, kan kamu juga yang jadi pencetus ide dari awal.” Katanya ramah.&#xA;&#xA;Walau respons keduanya sangat amat baik, tapi tetap saja aku perlu menggenggam jari kelingking Atha sebelum berbicara. Ini sudah jadi kebiasaanku sejak kecil, kalau aku gugup dan ketakutan lalu ada Atha di sebelahku, aku akan menggenggam apapun yang bisa kugenggam darinya, kadang ujung baju atau salah satu jarinya.&#xA;&#xA;“Tentang Leon,” kataku, “aku kemarin udah sempet cerita sedikit ke Kak Farras, Kak Dylan juga mungkin udah denger cerita yang sama dari Atha tentang Leon dan gedung kesenian maheswara. Kalau boleh aku kasih saran, gimana kalau buat projeknya bikin musical drama? Aku punya satu judul cerita yang kita tulis bareng-bareng, Leon gak tau apa-apa tentang rencana ini, but this story has meaning for us, sekiranya setuju, boleh gak kalau aku ajuin ceritanya untuk dijadikan pentas? Aku udah bawa salinan outline-nya barangkali mau Kak Farras atau Kak Dylan review.”&#xA;&#xA;Walau sedang membelakanginya, tapi aku bisa merasakan tatap penuh pertanyaan dari Atha lewat ekor mataku, dia sama sekali tidak tahu apa-apa tentang rencanaku yang ini dan tentang akun eyesdontread. &#xA;&#xA;Sebetulnya pun aku agak merasa bersalah untuk membeberkan cerita yang kami tulis secepat ini tanpa sepengetahuan Aleon, tapi rasanya akan sangat merumitkan kalau terlalu banyak rahasia di antara aku dan orang-orang yang terlibat dalam projek ini, sedikitnya mereka perlu tahu. Untuk sebagian cerita lain, tetap aku berikan hak penuh pada Aleon, sang pemilik kisah, untuk membagikannya ke orang-orang jika sudah siap.&#xA;&#xA;Wanita itu mengangguk. “Boleh aku liat?” pinta Kak Farras. Tanpa basi-basi aku segera mengeluarkan salinan outline yang sudah aku cetak dari dalam tas, aku juga sudah menambahkan makna tersirat dari kisah Sabiru dan Baruna agar lebih mudah dipahami. Lalu mereka berdua membacanya bergantian.&#xA;&#xA;Selang beberapa saat aku hanya melihat Kak Dylan sesekali mengangguk, dia sempat memuji kalau kisah yang kami tulis sangat menarik, namun untuk urusan pementasan ia akan serahkan sepenuhnya pada sanggar maheswara. Jadi yang harus kutunggu sekarang adalah jawaban Kak Farras. Reaksi wajah seriusnya yang daritadi tidak berubah membuat jantungku berdegup cepat.&#xA;&#xA;Lagi-lagi Atha menginterupsi, “Cerita apa? Kok gue gak tau?” Atha bertanya dengan berbisik-bisik lagi.&#xA;&#xA;“Nanti aja.” Aku mengibaskan tangan.&#xA;&#xA;“Nulisnya di mana? Kok gue gak tau? Thread cerita horror yang suka dibaca Leon itu? Punya lo berdua?”&#xA;&#xA;“Ssssh, nanti aja.”&#xA;&#xA;“Kok gue gak tau?” Masih bawel.&#xA;&#xA;“Ya karena gue gak ngasih tau!”&#xA;&#xA;“Gitu!” Atha melepaskan pegangan tanganku pada kelingkingnya, ngambek, namun aku segera mengambil kelingkingnya lagi.&#xA;&#xA;“Ini serius kalian yang buat?” Pertanyaan Kak Farras berhasil melerai sesi berbisik kami.&#xA;&#xA;Aku mengangguk.&#xA;&#xA;“Wow, unik banget, aku pribadi suka. Sanggar maheswara belum pernah nih kasih pementasan dengan tema dongeng kayak gini. This feels like a fairytale, brilliant, penulisan outline-nya juga rapi lagi. Oke, outline kamu juga bisa aku ajuin ke tim, tapi sebelumnya aku nggak bisa sepenuhnya memastikan ya Jani, tapi aku pasti akan mengusahakan semuanya sebisaku, no worries. Kalau dari Dylan, gimana?” Sekarang wanita itu menoleh pada Kak Dylan.&#xA;&#xA;“Aku suka jalan ceritanya.” Lelaki itu mengacungkan ibu jari padaku, aku menunduk malu seraya menggumam kata terima kasih. “Untuk bagian pertunjukan aku serahin ke sanggar maheswara.”&#xA;&#xA;“Oke kalau gitu, dua ide ini fixed aku bantu ajuin ya, paling lama aku kasih kabar ke Dylan dua minggu lagi. Ada tambahan lagi gak?”&#xA;&#xA;Kami semua menggeleng, termasuk Atha yang dari tadi banyak diam namun banyak menyimak.&#xA;&#xA;“Oh, Kak Dylan!” Ada satu hal yang terlupakan. &#xA;&#xA;Pandangannya mengarah padaku. &#xA;&#xA;“Semisal projek ini jadi berjalan, boleh rahasiain keterlibatanku sampe hari H nggak? Leon jangan tau dulu, termasuk cerita apa yang mau dipentasin. Kira-kira bisa gak ya, Kak Farras?” Aku juga meminta saran dari Kak Farras.&#xA;&#xA;“Buat urusan itu bisa kok menurut aku. Soalnya kita kan kolaborasi, bagian pementasan akan sepenuhnya di-handle sama sanggar, jadi kalau anggota rumah cemara gak tau detail sampai ke alur dramanya pun gak akan jadi masalah, yang penting rundown keseluruhan acaranya aja. Tinggal sekadar bilang drama musikal tentang anak yang mencari kebebasan, udah cukup.” Sarannya ditutup dengan suara tawa.&#xA;&#xA;Belum sempat menyahut, Kak Dylan lebih dulu melanjut. “Bener. Aman, ini nanti kita buat plan bareng anak-anak yang lain aja, Jan, di belakang. Eh, tapi ini anggota lain boleh tau nggak kalau kamu terlibat?”&#xA;&#xA;“Gakpapa dikasih tau, justru biar lebih enak kucing-kucingannya, banyak yang bantu.” Jawabku disambi tawa. “ Cuma kalau masalah cerita Sabiru, nanti aja dikasih taunya seiring berjalan. Aku minta tolong bantuannya untuk make sure kalau anggota lain gak akan bocorin ke Leon ya Kak Dylan.”&#xA;&#xA;“Gampang, ini gue juga bakal bantu urus. Gue boleh join bantu-bantu juga kan Kak Dy?” ujar Atha tiba-tiba.&#xA;&#xA;Kak Dylan terkekeh, mengangguk-angguk. “Lebih banyak yang bantu, lebih bagus. Setau aku kamu juga kenal sama beberapa anggota kan, Jan? Circle-annya Leon.” Dia menoleh padaku lagi.&#xA;&#xA;“Iya, kenal.”&#xA;&#xA;“Nanti aku kabarin mereka-mereka duluan, supaya kucing-kucingannya lebih gampang.” Kak Dylan meniru ucapanku sambil terkekeh.&#xA;&#xA;Aku menyetujui. Kak Farras yang ikut menyimak pun mengangguk-angguk.&#xA;&#xA;“Eh iya, hampir lupa!” Baru dua detik obrolanku dan Kak Dylan berhenti, Kak Farras sudah melanjut lagi. “Jan, ini ceritanya belum ada judul ya? Atau kamu kelupaan tulis judulnya?” tanyanya.&#xA;&#xA;Benar, aku dan Aleon memang belum menemukan judul yang cocok untuk kisah Sabiru dan Baruna. Tapi saat ini rasanya aku seperti mendapat dorongan untuk mengucapkan satu judul dengan pasti. Satu nama yang muncul secara otomatis saat itu juga.&#xA;&#xA;“A Tale of Cerulean Sky.” Kataku yakin.&#xA;&#xA;Pertemuan kami malam ini diakhiri dengan ucap terima kasih yang seperti tidak ada habisnya. Malam ini, gedung kesenian maheswara menunjukanku akan hal-hal penuh syukur. Rencana Tuhan tidak pernah bisa ditebak, orang-orang pemberian-Nya tidak dapat ditebak. Namun yang selalu bisa dipastikan adalah Tuhan tidak pernah mempertemukan hamba-hambanya tanpa alasan. Kita semua bertemu untuk saling memberi dan mengajarkan sesuatu.&#xA;&#xA;Obrolan selesai.&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<p>Berkat bantuan Atha, aku bisa mempertemukan Kak Dylan dengan Kak Farras.</p>

<p>Aku sudah sering melihat Kak Dylan beberapa kali, lewat foto, ada lumayan banyak foto-foto Kak Dylan selama berkegiatan mengajar di kamera Aleon. Lelaki yang selalu telihat lebih menonjol di antara kumpulan orang-orang di dalam foto, mata siapapun akan dengan mudah mengarah pada Kak Dylan tanpa ia perlu berpose keren, ternyata aslinya juga begitu. Ada banyak orang-orang yang duduk bersantai di kursi panjang dekat air mancur di depan gedung kesenian, menikmati udara malam, tapi Kak Dylan sangat mudah untuk ditemukan walau dia sedang menunduk fokus mengecek ulang lembaran proposal yang nanti akan diberikan pada Kak Farras, kemeja biru denimnya membuat kulit putih Kak Dylan menyilau dua kali lipat walau hari sudah gelap.</p>

<p>Dia melambaikan tangan begitu Atha memanggil dari kejauhan, dia juga tersenyum, memunculkan dua lesung pipitnya yang sama-sama menyapa kami.</p>

<p>Setelah bertukar sapa, aku dan Kak Dylan saling berterima kasih lalu berkenalan singkat, kami langsung masuk ke dalam gedung, menyambung percakapan di sepanjang langkah sekaligus aku menjelaskan ulang <em>planning</em>-ku pada Kak Dylan karena curiga banyak kalimat yang dilebih-lebihkan di versi Atha. Kami bertiga telah membuat janji dengan Kak Farras di sini, gedung kesenian maheswara.</p>

<p>Suasana gedung ini terasa sama sunyinya seperti kali kedua aku mengunjunginya, entah sunyi karena sedang tidak ada pertunjukan atau karena sisa kenangan Aleon pada gedung ini sekarang ikut berpindah kepadaku.</p>

<p>Di depan pintu auditorium satu, seorang wanita berambut panjang bergelombang telah menunggu kedatangan kami dengan menyuguhkan senyum sempurnanya yang begitu cantik. Aroma parfum Kak Farras bahkan bisa kucium dari jarak 5 langkah, aku tidak terlalu bisa mendeskripsikan wangi seseorang, tapi sepertinya aku mencium wangi <em>green pear</em> dengan perpaduan manis bunga <em>jasmine</em>? Dia cantik. Aku rasa dia bisa kujodohkan dengan Kak Dylan kalau saja dia tidak punya pacar.</p>

<p>“Halo!” sapanya. Suaranya lembut sekali, benar-benar cocok dengan parasnya yang anggun.</p>

<p>Kami saling berjabat tangan. Setelah memperkenalkan Atha, aku memperkenalkan Kak Dylan.</p>

<p>“Kak Farras, ini Kak Dylan, ketua pelaksana dari organisasi rumah cemara yang mau kolaborasi projek bareng sanggar maheswara.” Lalu lelaki itu membungkuk sopan.</p>

<p>“Ah, <em>it such an honor</em> bisa langsung ketemu Dylan! Ayo, kita ngobrol di dalem,” ajaknya seraya berjalan masuk.</p>

<p>Auditorium ini lebih besar dari ruang kedua yang kemarin aku dan Aleon kunjungi, secara interior susunannya tidak jauh berbeda, hanya saja jumlah kursinya lebih banyak dan panggungnya lebih besar, di atas sana tidak hanya ada satu piano tapi juga 2 buah cello dan 1 harpa. Kesan hangat dari cahaya-cahaya lampu keemasan membuat ruang ini lebih terlihat sebagai panggung pementasan klasik.</p>

<p>Selagi Kak Farras dan Kak Dylan berjalan di depan kami—sepertinya sudah mulai membicarakan projek rumah cemara, Atha berbisik kepadaku.</p>

<p>“Jan, <em>are you sure</em>?”</p>

<p>“<em>Why</em>?”</p>

<p>Atha memiringkan kepala, “Oke juga lo gue liat-liat jadi pencetus ide projekan orang, projek gede lagi.” Lalu dia menoyor kepalaku.</p>

<p>Aku menoyor balik. “Ya, karena gue butuh bantuan mereka juga sih. Gue nggak mampulah <em>handle</em> acara-acara begini sendirian, ditambah nyewa auditorium, belum anak drama, orchestra? Masa tunggu gue punya pabrik kue dulu. Kecuali kita adiknya ci Valen.”</p>

<p>“Ci Valen?” Atha menyatukan alis. Kami masih berbisik-bisik.</p>

<p>“Valencia Tanoesoedibjo.”</p>

<p>“Akrab lu ci valen ci valen.” Aku ditoyor lagi. “Baiklah, aku mendukung keculasanmu.”</p>

<p>“Heh?! Itu tuh simbiosis mutualisme tau.” Terakhir, aku membalas dengan menyentil jakunnya.</p>

<p>Kak Farras mengajak kami untuk duduk ke barisan kursi paling depan,. Perempuan itu duduk di antara aku dan Kak Dylan, lalu Atha yang hari ini akan berperan sebagai kambing conge duduk di sebelahku.</p>

<p>“Aku udah dapet sedikit bayangan dari projeknya Dylan,” Kak Farras memimpin obrolan, dia telah membolak-balik lembaran proposal milik Kak Dylan. “Sebenernya ada info nyelip yang belum aku ceritain nih Jan kemarin. <em>Timeline</em> projek rumah cemara itu hitungannya bareng sama projek rutinan sanggar maheswara.”</p>

<p>Aku memasang telinga, seluruh pandanganku hanya berfokus pada Kak Farras.</p>

<p>“Sanggar maheswara punya acara rutinan?” tanya Kak Dylan.</p>

<p>Kak Farras mengangguk seraya tersenyum. “Di kuartal kedua dan keempat tiap tahunnya, sanggar maheswara selalu menyelenggarakan pementasan gratis untuk umum, kuotanya memang nggak banyak sih, biasanya paling banyak pun 100 kursi. Jadi pendaftarannya rebutan gitu, formnya cuma di-<em>share</em> di akun sosial media punya sanggar. Semacam <em>limited invitation</em> untuk temen-temen yang ngikutin acara-acara sanggar. Makanya waktu aku denger-denger sedikit info dari Anjani tentang rumah cemara, aku rasa ini bisa diajak diskusi lebih lanjut.”</p>

<p>“Oh, kayaknya aku pernah tau.” Atha tiba-tiba merespons, kami bertiga menoleh.</p>

<p>“Kamu pernah nonton, Tha?” tanya Kak Farras antusias. Sungguh, pembawaan wanita itu benar-benar sangat menyenangkan.</p>

<p>Atha menggeleng. “Ada temen aku, kalau nggak salah akhir tahun lalu mau nonton <em>violin concer</em> gratis, dapetin undangannya rebutan. Apa jangan-jangan maksudnya itu acara punya sanggar maheswara, ya?”</p>

<p>“Iya! Di kuartal 4 tahun kemarin sanggar maheswara nampilin pementasan biola.”</p>

<p>“<em>Violin concert</em>? Serius?” sambungku. “Yah, sayang banget aku gak pernah tau.”</p>

<p>“Nggak selalu konser biola.” Kak Farras menjawab lagi. “Pentasnya beda-beda. Makanya untuk temen-temen maheswara, kita nyebut mereka yang ikutin sanggar maheswara sebagai temen-temen <em>by the way</em>, kenapa acara ini selalu ditunggu-tunggu salah satunya karena isi pentasnya selalu <em>surprise</em>. Bisa konser musik instrumental, <em>choir</em>, <em>musical drama</em>, dan lain-lain!”</p>

<p>“Kereeen, baik banget sanggar maheswara mau kasih pementasan seni secara cuma-cuma tiap tahun. Yang kita tau kan harga tiket acara simfoni gitu gak murah.” Kak Dylan membalas, lesing pipitnya pasti ikut muncul saat dia berbicara.</p>

<p>“Memang itu alasan eyang mengambil hak milik gedung kesenian ini. Beliau pengen kalau suatu saat punya aula sendiri, bisa tampilin pementasan yang bisa ditonton secara gratis.” Kata Kak Farras. “Menurut eyang, semua orang perlu menikmati pertunjukan seni setidaknya sekali seumur hidup. Gemaan musik orchestra yang didengar di dalam aula itu nggak akan bisa ditemui di manapun, orang-orang bisa menemukan dunia baru di dalam sana.”</p>

<p>Perihal dunia baru yang ditemukan, Ibu Malinka juga ingin menciptakan ruang aman lewat musik. Dia berharap senandung melodi yang dimainkan dapat memandu jiwa-jiwa lelah untuk beristirahat sejenak sebelum kembali mencari asa yang hilang.</p>

<p>“Nah, setelah tau tentang <em>charity project</em> rumah cemara, lalu secara
<em>timeline</em> juga kita barengan, aku jadi kepikiran ide.” Sekarang wanita di sebelahku menoleh pada Kak Dylan. “Dylan, gimana kalau projek kalian tahun ini kolaborasi bareng sanggar maheswara? Nanti, 100% dana yang kita dapetin dari projek ini, entah dari tiket masuk atau lainnya, kita sumbangkan ke pihak-pihak yang membutuhkan. Gimana?”</p>

<p>Mendengar itu, Kak Dylan tersenyum semringah seakan satu beban pikirannya terselesaikan. “Ide bagus. Super duper setuju,” sahutnya.</p>

<p>Dan aku yang dari tadi menyimak obrolan mereka, diam-diam menarik senyumku yang bahkan bisa jauh lebih lebar dari dua orang pemilik projek itu sendiri, Atha juga menyenggol pelan lenganku sebagai maksud kalau aku berhasil. Angan-angan selewat yang tidak tahu kenapa bisa terlibat di dalam kepalaku tiba-tiba akan benar direalisasikan dengan bantuan beberapa pihak. Mungkin bisa dibilang <em>privilege, but I’m grateful to have the privilege</em>, lewat orang-orang dan lingkungan yang ditinggali Mas Khai juga manusia-manusia keren di sekelilingku.</p>

<p>Aku berharap, projek ini tidak hanya memberi kenangan baru untuk Aleon, tapi juga sebagai bentuk dukungan kecil kami yang bisa diterimanya dalam proses berdamai pada suatu hal yang perlu diikhlaskan.</p>

<p>“Kalau gitu ini proposalnya aku ajuin dulu ke tim ya, nanti pasti aku bantu jelasin ulang biar di-<em>acc</em>!” ucap Kak Farras setelah menerima satu map dari Kak Dylan. “Nanti semisal udah dapet kabar dan disetujui sama pihak sanggar, aku kabarin lagi untuk <em>meeting</em> lanjutan. Kira-kira mau langsung ke Dylan aja atau gimana, Jani?”</p>

<p>Pertanyaan itu memecah lamunanku. “Langsung ke Kak Dylan aja kak, <em>role</em>-ku udah selesai sampe sini aja kok, hahaha.”</p>

<p>“Anjani, Atha, makasih banyak ya.” Sambil tertawa kecil juga, Kak Farras menjabat tangan kami berdua. “Aku tuh sempet kaget waktu Izza bilang ada temennya yang mau ngobrol penting sama aku, bingung, kok bisa tiba-tiba mau ngobrol padahal aku belum pernah kenalan langsung sama temen-temennya yang di Dubai. Eh, ternyata mau ngenalin kamu, yang katanya abis <em>stalking</em> instagramku,” sambungnya sambil sedikit menggodaku dengan sunggingan bibir.</p>

<p>Aku hanya bisa tertawa… karir. “Hehehehehehehehehehehe iya hehehehe.” Malu.</p>

<p>“Khai udah pulang ke Indonesia?”</p>

<p>“Belum, katanya masih ada yang perlu diurus, mungkin paling lama bulan depan.”</p>

<p>“<em>Looking forward to hearing good news from you soon</em>, Kak Farras, makasih banyak.” Kata Kak Dylan sembari berjabat tangan. Setelahnya, Kak Dylan juga ikut berterima kasih padaku.</p>

<p>Di sinilah aku mendapat celah untuk membicarakan rencana pribadi yang kutahan-tahan dari tadi karena menunggu keputusan terlebih dulu.</p>

<p>“Kak Farras, Kak Dylan,” panggilku. Tatapan mata dari keduanya membuatku menjeda kalimat, memilah ulang lagi kata-kata yang ingin kusuarakan sambil berdeham. “Sebelumnya aku minta maaf kalau terkesan paling semangat atau mengatur acara kalian, tapi, boleh nggak kalau aku kasih saran untuk projek acaranya? <em>You guys can take it or leave it</em>, kok…” Aku sedikit merasa tidak enak.</p>

<p>Mungkin Kak Farras merasakan kegugupanku, karena tiba-tiba dia langsung merangkul sebagai ucapan ya. Sama halnya dengan Kak Dylan yang juga membolehkan. “Silakan, Jan, gak usah sungkan, kan kamu juga yang jadi pencetus ide dari awal.” Katanya ramah.</p>

<p>Walau respons keduanya sangat amat baik, tapi tetap saja aku perlu menggenggam jari kelingking Atha sebelum berbicara. Ini sudah jadi kebiasaanku sejak kecil, kalau aku gugup dan ketakutan lalu ada Atha di sebelahku, aku akan menggenggam apapun yang bisa kugenggam darinya, kadang ujung baju atau salah satu jarinya.</p>

<p>“Tentang Leon,” kataku, “aku kemarin udah sempet cerita sedikit ke Kak Farras, Kak Dylan juga mungkin udah denger cerita yang sama dari Atha tentang Leon dan gedung kesenian maheswara. Kalau boleh aku kasih saran, gimana kalau buat projeknya bikin <em>musical drama</em>? Aku punya satu judul cerita yang kita tulis bareng-bareng, Leon gak tau apa-apa tentang rencana ini, <em>but this story has meaning for us</em>, sekiranya setuju, boleh gak kalau aku ajuin ceritanya untuk dijadikan pentas? Aku udah bawa salinan <em>outline</em>-nya barangkali mau Kak Farras atau Kak Dylan <em>review</em>.”</p>

<p>Walau sedang membelakanginya, tapi aku bisa merasakan tatap penuh pertanyaan dari Atha lewat ekor mataku, dia sama sekali tidak tahu apa-apa tentang rencanaku yang ini dan tentang akun <em>eyesdontread</em>.</p>

<p>Sebetulnya pun aku agak merasa bersalah untuk membeberkan cerita yang kami tulis secepat ini tanpa sepengetahuan Aleon, tapi rasanya akan sangat merumitkan kalau terlalu banyak rahasia di antara aku dan orang-orang yang terlibat dalam projek ini, sedikitnya mereka perlu tahu. Untuk sebagian cerita lain, tetap aku berikan hak penuh pada Aleon, sang pemilik kisah, untuk membagikannya ke orang-orang jika sudah siap.</p>

<p>Wanita itu mengangguk. “Boleh aku liat?” pinta Kak Farras. Tanpa basi-basi aku segera mengeluarkan salinan <em>outline</em> yang sudah aku cetak dari dalam tas, aku juga sudah menambahkan makna tersirat dari kisah Sabiru dan Baruna agar lebih mudah dipahami. Lalu mereka berdua membacanya bergantian.</p>

<p>Selang beberapa saat aku hanya melihat Kak Dylan sesekali mengangguk, dia sempat memuji kalau kisah yang kami tulis sangat menarik, namun untuk urusan pementasan ia akan serahkan sepenuhnya pada sanggar maheswara. Jadi yang harus kutunggu sekarang adalah jawaban Kak Farras. Reaksi wajah seriusnya yang daritadi tidak berubah membuat jantungku berdegup cepat.</p>

<p>Lagi-lagi Atha menginterupsi, “Cerita apa? Kok gue gak tau?” Atha bertanya dengan berbisik-bisik lagi.</p>

<p>“Nanti aja.” Aku mengibaskan tangan.</p>

<p>“Nulisnya di mana? Kok gue gak tau? <em>Thread</em> cerita horror yang suka dibaca Leon itu? Punya lo berdua?”</p>

<p>“Ssssh, nanti aja.”</p>

<p>“Kok gue gak tau?” Masih bawel.</p>

<p>“Ya karena gue gak ngasih tau!”</p>

<p>“Gitu!” Atha melepaskan pegangan tanganku pada kelingkingnya, <em>ngambek</em>, namun aku segera mengambil kelingkingnya lagi.</p>

<p>“Ini serius kalian yang buat?” Pertanyaan Kak Farras berhasil melerai sesi berbisik kami.</p>

<p>Aku mengangguk.</p>

<p>“Wow, unik banget, aku pribadi suka. Sanggar maheswara belum pernah nih kasih pementasan dengan tema dongeng kayak gini. <em>This feels like a fairytale, brilliant</em>, penulisan <em>outline</em>-nya juga rapi lagi. Oke, <em>outline</em> kamu juga bisa aku ajuin ke tim, tapi sebelumnya aku nggak bisa sepenuhnya memastikan ya Jani, tapi aku pasti akan mengusahakan semuanya sebisaku, <em>no worries</em>. Kalau dari Dylan, gimana?” Sekarang wanita itu menoleh pada Kak Dylan.</p>

<p>“Aku suka jalan ceritanya.” Lelaki itu mengacungkan ibu jari padaku, aku menunduk malu seraya menggumam kata terima kasih. “Untuk bagian pertunjukan aku serahin ke sanggar maheswara.”</p>

<p>“Oke kalau gitu, dua ide ini <em>fixed</em> aku bantu ajuin ya, paling lama aku kasih kabar ke Dylan dua minggu lagi. Ada tambahan lagi gak?”</p>

<p>Kami semua menggeleng, termasuk Atha yang dari tadi banyak diam namun banyak menyimak.</p>

<p>“Oh, Kak Dylan!” Ada satu hal yang terlupakan.</p>

<p>Pandangannya mengarah padaku.</p>

<p>“Semisal projek ini jadi berjalan, boleh rahasiain keterlibatanku sampe hari H nggak? Leon jangan tau dulu, termasuk cerita apa yang mau dipentasin. Kira-kira bisa gak ya, Kak Farras?” Aku juga meminta saran dari Kak Farras.</p>

<p>“Buat urusan itu bisa kok menurut aku. Soalnya kita kan kolaborasi, bagian pementasan akan sepenuhnya di-<em>handle</em> sama sanggar, jadi kalau anggota rumah cemara gak tau detail sampai ke alur dramanya pun gak akan jadi masalah, yang penting <em>rundown</em> keseluruhan acaranya aja. Tinggal sekadar bilang drama musikal tentang anak yang mencari kebebasan, udah cukup.” Sarannya ditutup dengan suara tawa.</p>

<p>Belum sempat menyahut, Kak Dylan lebih dulu melanjut. “Bener. Aman, ini nanti kita buat <em>plan</em> bareng anak-anak yang lain aja, Jan, di belakang. Eh, tapi ini anggota lain boleh tau nggak kalau kamu terlibat?”</p>

<p>“Gakpapa dikasih tau, justru biar lebih enak kucing-kucingannya, banyak yang bantu.” Jawabku disambi tawa. “ Cuma kalau masalah cerita Sabiru, nanti aja dikasih taunya seiring berjalan. Aku minta tolong bantuannya untuk <em>make sure</em> kalau anggota lain gak akan bocorin ke Leon ya Kak Dylan.”</p>

<p>“Gampang, ini gue juga bakal bantu urus. Gue boleh join bantu-bantu juga kan Kak Dy?” ujar Atha tiba-tiba.</p>

<p>Kak Dylan terkekeh, mengangguk-angguk. “Lebih banyak yang bantu, lebih bagus. Setau aku kamu juga kenal sama beberapa anggota kan, Jan? <em>Circle</em>-annya Leon.” Dia menoleh padaku lagi.</p>

<p>“Iya, kenal.”</p>

<p>“Nanti aku kabarin mereka-mereka duluan, supaya kucing-kucingannya lebih gampang.” Kak Dylan meniru ucapanku sambil terkekeh.</p>

<p>Aku menyetujui. Kak Farras yang ikut menyimak pun mengangguk-angguk.</p>

<p>“Eh iya, hampir lupa!” Baru dua detik obrolanku dan Kak Dylan berhenti, Kak Farras sudah melanjut lagi. “Jan, ini ceritanya belum ada judul ya? Atau kamu kelupaan tulis judulnya?” tanyanya.</p>

<p>Benar, aku dan Aleon memang belum menemukan judul yang cocok untuk kisah Sabiru dan Baruna. Tapi saat ini rasanya aku seperti mendapat dorongan untuk mengucapkan satu judul dengan pasti. Satu nama yang muncul secara otomatis saat itu juga.</p>

<p>“A Tale of Cerulean Sky.” Kataku yakin.</p>

<p>Pertemuan kami malam ini diakhiri dengan ucap terima kasih yang seperti tidak ada habisnya. Malam ini, gedung kesenian maheswara menunjukanku akan hal-hal penuh syukur. Rencana Tuhan tidak pernah bisa ditebak, orang-orang pemberian-Nya tidak dapat ditebak. Namun yang selalu bisa dipastikan adalah Tuhan tidak pernah mempertemukan hamba-hambanya tanpa alasan. Kita semua bertemu untuk saling memberi dan mengajarkan sesuatu.</p>

<p>Obrolan selesai.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://sannflowers.writeas.com/307-a-plan</guid>
      <pubDate>Wed, 07 Jun 2023 13:14:31 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Buku harian yang hilang Vol 2, Malinka</title>
      <link>https://sannflowers.writeas.com/buku-harian-yang-hilang-vol-2-malinka?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[- -&#xA;Dokter bilang, harusnya aku menyadari tanda-tandanya dari awal. Sebenarnya sangat sulit membedakan tahapan awal penyakit ini, karena apa-apa yang aku lupakan itu seperti hal yang biasa, setiap orang juga sering melupakan sesuatu kan? Kata dokter, harusnya ada orang yang menemaniku, maksudnya benar-benar tau akan prediksi kesehatanku. Ale tidak tau apa-apa, dia tidak tau kalau sakit yang diderita ibuku bisa bersifat turunan apalagi menyerang di usia muda. Yang mungkin bisa diandalkan cuma adikku, tapi Shelly tidak ada di sini, aku juga tidak berani cerita padanya karena sebenarnya aku takut kalau penyakitnya terdiagnosa, aku yakin hampir semuanya begitu, takut kalau tau ternyata ada yang salah dengan kesehatannya. Sekarang sudah terlambat, sangat terlambat. &#xA;&#xA;Satu-satunya lagi orang yang tau dan sudah mempersiapkan matang-matang apa saja yang harus diurus kalau kondisi ini benar-benar terjadi padaku hanya suamiku Jusuf. Tapi Jusuf sudah meninggal, Jusuf jatuh dari ketinggian 6 lantai waktu memantau proyek pembangunan.&#xA;&#xA;Aku sudah sering melihat kondisi para penderita Alzheimer di panti demensia, aku juga memainkan musik untuk mereka di sana. Rata-rata, pasien di sana sudah berada di tahapan parah, mereka tidak mengenali orang-orang di sekitar, keluarga, tidak mengenal diri sendiri, atau dia ingat punya seorang adik tapi tidak dapat mengenali wajah adiknya. Pandangan mereka semua tampak kosong, seperti meninggali tubuh yang sebenarnya sudah tidak memiliki nyawa. &#xA;Setiap pulang dari sana, aku memikirkan Ale. Kalau suatu hari aku harus menjadi bagian dari panti itu, Ale bagaimana? Ale sama siapa? Jusuf sudah meninggal, dan yang terjadi padaku akan lebih dari sekadar kematian bagi Ale.&#xA;&#xA;Ale sangat dekat dengan kami, dia jarang menerima ajakan main teman-temannya di hari minggu karena lebih memilih untuk menghabiskan waktu bersama kami. Sekarang hanya denganku. Aku masih ingat, aku masih bisa menceritakan apa yang kuingat di lembar-lembar selanjutnya karena semua sudah aku tulis rapi di buku ini, termasuk semua kegiatanku bersama Ale. Setiap hari aku baca, dan aku ingat-ingat lagi walau sebenarnya semakin terasa sulit mengingat tiap detailnya, sulit mengingat bagaimana suara tawa Ale dan Jusuf di hari-hari bahagia kami. &#xA;&#xA;Buku harian ini mengenang memoriku jauh lebih baik dari kepalaku. Jadi kalau tidak bisa berharap ingatanku tidak hilang, aku harap buku harian ini yang jangan hilang. Supaya suatu hari nanti, jika ditemukan, Ale tau seberapa sayangnya aku dengan dia, seberapa khawatirnya aku dengan dia. &#xA;&#xA;Untuk Aleon, &#xA;Kalau suatu hari kamu menemukan buku ini dan ingatan ibu sudah semakin memburuk, ibu minta tolong agar kamu tetap mengingat ibu sebagai orang yang sama. Sebagai Malinka yang sama. Ibumu.&#xA;Dari Malinka di hari ini, aku mewakili Malinka di masa depan untuk meminta maaf